3 Nasehat Siraman Kalbu Dari Aa’ Gym Yang Baik Untuk Materi Renungan

0
5


3 Nasehat Siraman kalbu dari Aa’ Gym yang baik untuk materi Renungan -Siapa yang tak kenal dengan Aa’ Gym. Yan Gymnastiar atau lebih dikenal sebagai Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym yaitu seorang pendakwah, penyanyi, penulis buku, pengusaha dan pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid di Jalan Gegerkalong Girang, Bandung. Ada aneka macam masyarakat yang menyukai dakwah dari beliau. Berikut Blogger jemo lintank memposting 3 Nasehat siraman kalbu dari Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan.
Yan Gymnastiar atau lebih dikenal sebagai Abdullah Gymnastiar atau  Aa Gym yaitu seorang  3 Nasehat Siraman kalbu dari Aa’ Gym yang baik untuk materi Renungan
3 Nasehat Siraman kalbu dari Aa’ Gym yang baik untuk materi Renungan
Nasehat Siraman kalbu dari Aa’ Gym yang baik untuk materi Renungan Yang pertama:
Bersandar Hanya Kepada Allah
Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak mempunyai sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.
Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, “Faalhamaha fujuraha wataqwaaha”, “Dan sudah diilhamkan di hati insan untuk menentukan mana kebaikan dan mana keburukan”. Potensi baik dan potensi jelek telah diberikan, kita tinggal menentukan mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh alasannya itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan jelek dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang menentukan menjadi buruk, naudzubillah.
Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, alasannya dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini alasannya dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.
Padahal, semua yang kita sandari sangat gampang bagi Allah (mengatakan ‘sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat gampang sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, “laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah.
Jabatan diambil, tak masalah, alasannya jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina alasannya jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.
Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ‘ya silahkan … Buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak menciptakan saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tidak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah alasannya kita sanggup mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tidak mendapat pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya honor 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya honor 15 juta, tapi oleh Allah diberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.
Oleh alasannya itu, jangan bersandar kepada honor atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, gampang bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibentuk urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, gampang bagi Allah untuk menawarkan penyakit yang menciptakan bapak kita tidak bisa melaksanakan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.
Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, kemudian kita merasa kondusif dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah menciptakan sang suami muntaber, akan sangat sulit langgar atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, kemudian menggigitnya sehingga terserang demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang hebat beladiri karate.
Otak cerdas, tidak layak menciptakan kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala kepingan belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.
Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh alasannya itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap ketika bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kanotr, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.
“Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya supaya terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, alasannya Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh.”
Insya Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. “Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu”, (QS. At Thalaq [65] : 3). Yang hatinya bundar tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. “Innallaaha ala kulli sai in kadir”.
Oleh alasannya itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, “Lahaula wala quwata illa billaah” (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, Insya Allah.
Nasehat Siraman kalbu dari Aa’ Gym yang baik untuk materi Renungan Yang kedua:
Belajar Dari Wajah
Menarik sekali jikalau kita terus menerus berguru ihwal fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita berguru ihwal wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena kasus wajah bukan hanya kasus bentuknya, tapi yang utama yaitu pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.
Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : “Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu menyerupai apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu menyerupai bagaimana?” alasannya pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, alasannya setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita berguru ilmu ihwal wajah.
Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang seram alasannya bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.
Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan semenjak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas dingklik roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, ketika menatap wajahnya, terpancar kesegaran yang luar biasa. Padahal, ia jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu ia memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar ketika kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.
Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia hingga mempunyai wajah yang menenteramkan menyerupai itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.
Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi kepingan dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.
Tidak ada salahnya jikalau kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut menyerupai apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk menyerupai ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.
Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih lapang dada lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya duduk masalah menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita menciptakan di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, menawarkan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan ia sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut yaitu orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.
Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang ia contohkan. Dan itu ternyata kuat besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.
Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang tiba menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.
Orang alasannya itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa hingga menyerupai itu? Lalu praktekkan dalam sikap kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!
Mudah-mudahan kita sanggup mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.***
Nasehat Siraman kalbu dari Aa’ Gym yang baik untuk materi Renungan Yang ketiga :
Al Waliyyu
Bismillahhirrahmaanirrahiim,
Semoga Allah yang Maha Menatap, mengkaruniakan kepada kita nikmatnya berlindung hanya kepada Allah, amannya berlindung hanya kepada Allah, alasannya yang menciptakan kita gelisah yaitu ketika kita berlindung selain kepada Allah.
Al-Walliyyu makna dasarnya berdasarkan Prof. Dr. Quraish Syihab yaitu dekat, kemudian muncul makna-makna gres yaitu pendukung, pembela, pelindung, yang mencintai, yang lebih utama, dll.
Seperti tertera dalam Al-Qur’an “Allah pelindung orang yang beriman yang mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya iman”.
Perlindungan Allah yang paling penting yaitu diberi keteguhan iman. Perlindungan Allah yang paling besar yaitu diberi kekuatan iman. Makin kuat iman, kita mau diapa-apakan tidak masalah. Makara kalau ingin diberi derma Allah yang paling kokoh yaitu minta diberi kekuatan kepercayaan dan minta diteguhkan. Akal kita dicerdaskan juga sanggup merupakan derma Allah sehingga kita bisa bertemu dengan derma Allah.
Perlindungan Allah itu bermacam-macam, contohnya pada Perang Badar, bukan hanya pasukan malaikat saja yang turun tetapi musuh juga jadi terlihat sedikit dimata kaum muslimin.
Musuh terbesar bagi kita yaitu bukan makhluk, alasannya itu hanya alat, musuh besar kita yaitu setan dan kawan-kawannya. Hal yang paling berbahaya bagi kita yaitu bukan orang lain tetapi sikap kita sendiri. Sedangkan kalau tidak ada musuh tidak akan seru. Maka orang-orang yang berlindung kepada Allah niscaya memuaskan dan nikmat, alasannya derma Allah itu spektrumnya sangat luas, bisa terdeteksi bisa juga tidak terdeteksi oleh nalar kita. Tidak ada yang tidak masuk akal, tetapi nalar kita yang tidak sampai. Titipkan istri atau suami masing-masing kepada Allah. Dengan mengamalkan doa “Hasbunallah wani’malwakil Ni’malmaula wani’mal nashir”. Dengan mengamalkan doa ini dan meyakini bahwa semua makhluk itu milik Allah. Dengan Allah-lah urusan kita serahkan. Berdiri, duduk dan berbaring ingat kepada Allah alasannya semuanya milik Allah. Sesuai dengan cerita Nabi Muhammad SAW ketika diancam untuk dibunuh dengan pedang terhunus, kata yang keluar dari verbal Beliau yaitu “Aku berlindung kepada Allah”.
Ini yaitu ilmu hati, berbeda lagi dengan ilmu nalar dan ilmu fisik, alasannya nanti kita tidak bisa mati konyol alasannya hanya yakin. Ini yaitu jalan syariat untuk tidak konyol.
Tidak boleh keyakinan melemahkan ikhtiar, dihentikan kegigihan ikhtiar memperlemah keyakinan. Makara lakukanlah ikhtiar; badan 100% bersimbah keringat terus berbuat all out, otak peras sesuai teknologi yang paling mutakhir ketika ini. Kita tidak bisa konyol dengan hanya membawa panah melawan peluru. Ilmu hatinya sudah benar dengan keyakinan tetapi sunnatullahnya yaitu kecepatan peluru lebih daripada panah, hal ini harus diakali. Berbeda dengan zaman Rasul atau sudah tidak ada peluang.
Sebuah cerita meriwayatkan ketika Rasulullah hijrah dan berdoa di goa Tur, teman Abu Bakar merasa gentar, balasan Rasul yaitu “Jangan sedih bahwasanya Allah bersama kita”.
Jadi kita sempurnakan syariat, badan harus dimaksimalkan, otak juga. Dua-duanya akan menjadi ibadah. Tidak kasus jikalau kita mati terbunuh. Tidak ada yang kalah kecuali orang yang kurang iman.  Kemenangan dan kekalahan hanya dipergilirkan. Mudah-mudahan bencana di Palestina dan Amerika menciptakan kita semakin mantap untuk meyakini kebenaran.
Walhamdulillahirobbil’alamiin.
Demikianlah 3 Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan. Semoga bermanfaat.
Tag : Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan¸ Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan¸ Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan¸ Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan¸ Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan¸ Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan¸ Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan, Nasehat Aa’ Gym yang baik untuk materi renungan