#2 Novel Motivasi Hidup – Hitam Eposode 3

0
5
#2 novel motivasi hidup Episode 3 – Hitam – Sebelumnya saya sudah menulis #Novel Motivasi Hitam Episode 2. Novel hitam ini saya buat biar pembacanya sanggup termotivasi dan selalu semangat dalam menjalani kehidupan. Butuh beberapa bulan saya menulis novel ini dan kini anda sudah sanggup membacanya. Berikut Novel Motivasi hidup yang berjudul hitam episode 3.
 Novel hitam ini saya buat biar pembacanya sanggup termotivasi dan selalu semangat dalam men #2 novel motivasi hidup - Hitam Eposode 3
Ilustrasi #2 novel motivasi hidup – Hitam Eposode 3. Sumber Foto Marvelcinematicuniverse
Jangan lupa baca juga :
Berikut #2 novel motivasi hidup – Hitam Eposode 3
DIMANA AKU?
           
            “Kau sudah sadar udang kecil…?” Suara berat itu terdengar dikala rohku gres saja kembali melekat di jasad. Apa yang gres saja terjadi? Kepalaku agak sedikit berdenyut. Aku menarik napas, mencoba menenangkan diri, mengingat kembali hal apa yang telah terjadi.
            Tunggu sebentar, bunyi itu. Astaga, itu bunyi berandal kemarin. Aku membuka mata perlahan, duduk, tanpa disadari ternyata saya sudah terbaring di tanah, di tengah hutan. Baru ingat, bahwa barusan ada rombongan laki-laki yang telah membiusku. Terlihat dua laki-laki bertopeng di depan, dan satu berandal dengan sedikit bekas luka dikepala, dan leher bekas jahitan. Kaget dan takut, saya sedikit bergeser mundur.
            Teringat kembali hal kejam yang mereka lakukan kemarin, emosi, mengenggam sebuah batu, melemparkannya. Bandit itu mengelak.
            “Sekarang saya sudah sanggup mengelak dari serangan kecilmu, bocah”, mereka tertawa.
            “Kau tidak akan bocor kepala lagi, ya boss!!” Orang yang menggunakan epilog kepala satunya tertawa lepas berusaha bercanda, yang lainnya diam, melotot. Melihat hal itu, ia juga menyumpal mulut, berhenti tertawa, membuka topeng. 
            Terlihat rambut keribo dengan hidung pesek, akan kuingat bentuk wajahnya – kalau saya masih hidup.
            Tiap kali teringat pembunuhan sadis mereka, saya selalu emosi. Mengambil ranting, mencoba menyerang mereka, berdiri, “HIAAA!!” Ranting terus kusambit-sambitkan. Maju. Tangan kanan berandal yang sanggup dipastikan pemimpin mereka, apalagi mengingat laki-laki satunya memanggil boss, meremas leherku, tinggiku masih sepantar pundak mereka, napas terhimpit, menatap ke arah mereka, tatapan penuh kebencian. Remasan di leher kian erat, didorongnya saya ke belakang, menciptakan terhenyak ke tanah, kepala hampir mengenai batu. 
            “Apa yang kalian inginkan dari keluarga kami?” Aku membuka mulut, Sedikit terbatuk akhir cekikannya.
            Bandit itu melihat dengan tatapan kejam, menjentikkan jarinya. Si kribo berjalan ke arah mobil. Masuk. Mengeluarkan secarik kertas dan handpone, menyerahkannya pada yang memerintah.
            “Tanda tangan!!” Bandit itu berseru, menyodorkan secarik kertas dan bolpoin ke arahku. “Cepat kau tanda tangani kertas ini..” ia berseru galak, sebelah tangannya memegang pemukul kasti –bersiap memukul kepalaku– Aku menggeleng, tidak tahu maksud dari harapan mereka, dan juga tak akan mau menandatangani kertas itu.
            Ia menarik kembali kertas itu, memberikannya lagi pada si kribo, “Tak apalah bila kau tidak mau menandatangai surat ini. Masih ada keempat adik kecilmu…”
            Mendengar mereka menyebut-nyebut keempat adikku, emosi semakin memuncak, “Jangan coba-coba kalian sakiti adik-adikku. Atau kalian akan …” Kehilangan kata-kata.
            “Atau apa hah?” Si kribo berseru.
            “Atau kalian akan dihajar oleh pamanku..” Aku asal menjawab, benar-benar kehabisan kata.
            Mereka saling pandang, tertawa kompak. “Maksud kau LEO WILLIAM hah?” mereka bertanya. Aku terkaget, bagaimana ia tahu nama lengkap paman Leo? Siapa sesungguhnya mereka ini?
            “Lihatlah ini…!!” Dia menyodorkan handphone. Meskipun malas untuk melihatnya, saya harus lihat itu biar tahu maksud dari tujuan mereka.
            “Tujuan awal kita sudah selesai. Kerja yang bagus. Tujuan selanjutnya ialah membunuh kelima anak kecil itu, jangan lupa untuk meminta tanda tangan untuk suratnya sebelum mereka kalian bunuh, biar dendamku sanggup tercapai, dan saya sanggup menguasai harta mereka..”
            Bak petir menghampiri, meruntuhkan perasaan. Dunia ibarat semakin gelap, bukan hanya alasannya ucapan dari orang yang ada di video itu, tapi lebih-lebih mengetahui kalau orang yang berbicara itu ialah Paman Leo. 
            Ya Tuhan, saya tak sanggup berkata apa-apa lagi, membatu. Tak sanggup kupercaya kalau ternyata dibalik pembunuhan hari itu pelakunya ialah Paman Leo sendiri. 
            Langit seakan menampakkan awan-awan hitam mengerikan. Kecewa sekali. Paman yang saya pikir selama ini paling baik, paman yang sanggup menggantikan sosok ayah ialah dalang ini semua. 
            Paman Leo laknat, tega sekali ia melaksanakan ini semua kepada kami. Pandai sekali ia akting selama ini dihadapan kami. Rasa emosi memperabukan hatiku. Rana-Rani dan Adi-Edi, mereka, mereka dalam bahaya. Bergegas saya berusaha hendak lari, namun apa daya, dikala selangkah-dua langkah kaki melangkah, kepala berdebam dipukul mereka. 
            Aku terkapar lemah di tanah, terdengar sedikit sayup-sayup menyampaikan “Biar saja ia disini. Hewan buas akan mencabik daging-daging lembutnya itu.” Lantas tidak sadarkan diri.
***
            “Dio sudah bangun, kai..”
            Terdengar bunyi sayup-sayup, saya perlahan membuka mata. Memegang kepala, terasa sakit, tampaknya sedikit luka. Pandangan masih agak sedikit kabur, berkunang-kunang. Masih teringat video itu, benar-benar Aku kecewa kepada paman Leo.
            Tapi tunggu sebentar. Aku, saya masih hidup. Apa yang telah terjadi? Mengapa mereka tidak membunuhku? Dimana aku?
            Terlihat sama-samar anak laki-laki yang tampaknya seumuranku, menatap heran kearahku. Pandangan semakin membaik, tidak-tidak, bukan hanya satu orang, tapi sekitar puluhan orang, berkumpul mengelilingiku, menatap dengan tatapan heran. Aku lebih-lebih heran melihat mereka, heran bercampur ketakutan.
            Mereka tidak ibarat orang normal, maksudku pakaian mereka benar-benar terlihat aneh, kalau dikira-kira pakaian mereka itu terbuat dari daun kering yang dianyam. Prianya bertelanjang dada hanya menggunakan celana, sedangkan yang wanita menggunakan baju dan celana yang seragam dengan yang lainnya. Jangan-jangan mereka ialah insan hutan – Orang pedalaman. Astaga naga, macam mana ini? Kenapa hidupku semakin masuk ke dalam hal menyeramkan ibarat ini? 
            Sekali-dua kali terdengar bunyi burung bersahutan, terlihat pohon-pohon sepanjang mata memandang.
            “Kai, jangan-jangan dio ini salah satu dari suku pute. Apo kito usir sajo dio ini, kai?” Pria yang berdiri di bersahabat kakek bau tanah mengatakan, disetujui dengan rombongan lainnya. Aku sedikit kurang mengerti bahasa mereka, hanya saja tampaknya mereka tengah meragukan aku, terdengar dari kata usir dan nada agak sedikit sebal dari mereka. Aku masih lemas terkapar di tanah, dengan daun pisang sebagai karpetnya, kepala masih terasa sakit, tak berdaya untuk berdiri.
            Kakek bau tanah itu mengangkat tangan, menyuruh berhenti, “Tidak, dio bukan dari suku pute, memang kulitnya berwarno pute, tapi cubo kalian lihat pakaiannyo. Dio ini bukanlah dari suku pedalaman, biarlah dulu dio istirahat hingga sehat, gres kito sanggup tanyoi dio” Kakek bau tanah dengan tongkat kayu di tangan kanannya berdiri “Biarkan dulu dio disini… Nah, kau Ambong, jagoi dio disini, kalau dio mau minum ataupun makan, kasih sajo..”
            “SIAPP KAII!!” Anak yang tampaknya seumuran saya itu menjawab tegas. Kakek bau tanah dan yang lainnya berjalan menjauh.
            Entahlah, dimana ini. Yang niscaya saya ingin pulang, saya takut dengan orang-orang ini. 
            Baju putihku sudah cemong penuh lumpur, mengorek saku celana, sedikit lega bahwa kalungnya masih ada. 
            Orang dengan kulit gelap itu sibuk melaksanakan sesuatu, entah apa yang ia lakukan. Pandanganku mengarah ke atas, melihat rimbunnya daun, sesekali terlihat silau alasannya tembus oleh sinar matahari. 
            Teringat mama, apa maksud dari teka-teki mama wacana kalung hitam itu? Dulu saya benci sekali warna hitam, hingga semua pakaian yang saya kenakanpun tidak ada yang hitam sama sekali.
            Aku benci warna hitam, alasannya hitam itu ialah menunjukan keburukan-kematian, warna hitam pula mengartikan kalau hidup orang tersebut menderita. Tapi aduhai mama, kini hidupku menderita, dunia menjadi hitam, saya tidak sanggup hendak membenci atau tidak warna ini, alasannya ia sudah melekat dalam hidupku. 
            Dan sekarang, ada banyak orang-orang hitam disini. Bagaimana ini? Sialnya lagi tidak ada handphone disini untuk menelpon orang rumah, untuk menelepon bi Dira atau paman Leo. Menahan napas sejenak, eksklusif emosi kalau teringat bajingan itu, setan, paman Leo benar-benar serigala berbulu domba, saya benci sekali orang itu. Rana-Rani, Adi-Edi, mereka dalam bahaya, saya mencoba berdiri. Tak sanggup, sedikit mengeluh kesakitan.
            “Kau mau kemano? Tidur sajo dulu, luka kau masih parah nian..”, anak seumuran saya itu menoleh, berkata, kini dihadapanya sudah mengepul asap, jadi dari tadi ia mencoba menyalahkan api, tapi menggunakan apa? Apakah di bersahabat sini ada yang menjual korek? Ah lupakan, tampaknya ia benar, bahwa saya butuh untuk istirahat dulu.
***
            Warna senja menyapa, terlihat sedikit gelap. Suara jangkrik berderu, burung-burung dengan masing-masing bunyi saling bersahutan. Suara kerumunan dan deru kaki mendekat, saya terbangun, duduk, kini sudah tidak terlalu terasa sakit. Mengeluh. Ternyata ini bukanlah mimpi, dimana aku? Menangis ketakutan.
            “Nah, dio sudah sembuh sepertinyo..” Kakek bau tanah itu berjalan menghampiriku, tersenyum. “Kenapo kau nangis?” ia bertanya. Aku tak menjawab, “Yah sudah kalau tak mau menjawab, kita masuk ke goa dulu, sebentar lagi malam… Oi Ambong, antar dulu dio ini ke goa.” Berseru ke arah anak yang tadi.
            “SIAPP KAII!!” Dia berjalan, mencoba memapahku. 
            Baru saya sadari kalau ternyata daritadi disini terdapat tebing dengan beberapa gua disana, gua itu tidak terlalu tampak alasannya mereka menutupinya menggunakan rumput-rumput yang menjalar dari atas. Apa pula fungsi-fungsi dari goa ini?
            “Nah duduklah disini..” Anak sepantaran dan seumuranku berkata. Tidak ada apa-apa disini, selain hanya dinding-dindingg tanah dan api unggun. Disini juga cuman ada kakek bau tanah dan anak itu. Kemana perginya yang lain?
            Jujur, saya tidak suka kawasan ini, disini gelap, saya tidak suka warna hitam, apalagi gelap ibarat ini.
            “Tolong lampunya jangan dimatikan, ma” selalu itu yang terucap dikala saya hendak tidur. Aku takut sekali akan kegelapan, rasa-rasanya di dalam gelap ada hantu-hantu siap menerkam.
            “Kau tahu sayang, tidur tanpa lampu itu baik. Ruangan gelap dikala kita tidur sanggup membunuh sel-sel jahat penyebab kanker, Loh. Tapi kau harus berani akan kegelapan, hidup ini memiliki 2 sisi, sayang. Baik-buruk, siang-malam, terang-gelap, ada masanya kita bahagia dan sedih, kau tidak sanggup mengelak dari keduanya, cukup nikmati dan bersabar. 
            “Setiap kegelapan itu baik, coba kau lihat bintang, ia hanya muncul dikala malam hari, itu artinya setiap sisi jelek juga mengandung kebaikan. Sama halnya ibarat gelap, kegelapan tidaklah menakutkan, pikiran kau saja yang seperti menciptakan itu menakutkan” Walaupun berkali-kali mama berdongeng wacana itu, selalu menyampaikan kebaikan akan keburukan, tetap saja saya benci dan takut kegelapan. Sekarang, hidupku  sedang berada di sisi hitam, apa coba nasihat dari ini semua? Tidak ada hikmah, yang ada hanyalah kesengsaraan, ketakutan, kelaparan. Dan saya lapar sekarang.
            Aku juga tidak suka dengan orang-orang abnormal disini. Pakaian mereka, cara mereka berbicara, saya benci itu semua.
            “Kau lapar? Silahkan makan babi panggang ini untuk mengisi perut kau yang kosong..” Kakek bau tanah menyodorkan segumpal daging yang gres saja dipanggangnya. Eikss, Apa katanya? Daging babi? Jangankan mau memakannya, melihat dan mendengar kalau itu daging babi saja sudah menciptakan perut mual. Lebih baik rasa lapar ini ditahan untuk sementara waktu, saya harus secepatnya pergi dari sini. Semoga saja orang-orang disini bukanlah kanibal, dan membiarkan saya pergi.
            “Ngomong-ngomong, siapo namo kau?” Kakek bau tanah bertanya. Aku paham sekarang, mereka kebanyakan hanya mengganti abjad ujung dengan “O”.
            “Su…u…sulung..” Aku menjawab ragu-ragu.
            “Sulung? Oyoyoy itu namo yang elok nian” Ia tersenyum, meniup-niup daging bakar. “Kau tidak mau makan, sulung? Kalau tidak, daging ini akan segera lenyap dimakan si Ambong..” Kakek itu tertawa, Aku diam, tidak ikut tertawa, masih takut sama mereka.
            “Kai, memangnyo dio darimano? Jangan-jangan betul kato orang-orang, kalau dio ini ialah kelompok suku pute” Anak itu ikut bicara, mengelap mulutnya yang habis menggigit daging.
            “Kau jangan asal berucap, Ambong. Tidak mungkinlah dio rombongan suku pute, memangnyo ado suku pute menggunakan baju sebagus macam ini?” Kakek itu tertawa lagi. Meletakkan gagang penusuk daging yang sudah kosong ke tanah. 
            “Ah sudahlah, kito tidur dulu, sudah malam. Besok kito cakap-cakap lagi” Kakek bau tanah mematikan api unggun, menyisakan arang yang masih memerah. “Nah kau Sulung, tidur sajo didekat Ambong, kai mau tidur duluan yo..” Kakek bau tanah berbaring di tanah, anak seumuran saya itu juga berbaring – Terlihat dikala arang menyalah yang masih memberi sedikit sinarnya, sekali-kali ia menguap, meninggalkan saya sendiri yang ketakutan, kelaparan dan tentu saja tidak akan sanggup tidur dalam kegelapan ibarat ini, terlebih lagi tidur di tanah langsung, tidak terbayangkan apakah saya sanggup hidup disini.
            Beberapa menit berlalu, suasana semakin hening, terdengar bunyi ngorok dari salah satu mereka, saya tidak tahu siapa yang mengorok, alasannya arang dari api sudah mati. Aku berniat untuk pergi dari sini, bunyi burung hantu bernyanyi riang di depan, ditemani nada jangkrik dan serangga lainnya. Ketakutan yang amat sangat, tapi saya harus mengalahkan rasa takut ini biar sanggup pergi dari sini, sanggup menyelamatkan si kembar dari liciknya si Leo William – Bahkan saya tidak sudi lagi menyebutnya dengan suplemen “Paman”.
            Aku Berdiri. Merapat ke dinding, berjalan menelusuri goa, terus menyentuh dinding, alasannya ini goa, walaupun gelap, teorinya sederhana saja untuk keluar dari sini, yaitu dengan terus menelusuri melalui sentuhan dinding.
            Selangkah demi selangkah kaki melangkah, dengan tangan terus meraba-raba dinding, akibatnya saya hingga ke semak-semak epilog goa, menyibaknya, lantas eksklusif lompat keluar.
            Terlihat sedikit terang diluar sini, bulan purnama menyumbang sedikit cahanya ke tanah, yang kebanyakan terhalangi oleh dedaunan rimbun pohon-pohon. Namun Diluar sini berkali-kali lipat lebih lebih hambar ketimbang di dalam, menciptakan gigi bergemeletuk pas dikala badan eksklusif keuar dari lisan goa.
            Aku sedikit berlarian, berusaha mencari tahu kemana arah jalan pulang. Percuma, disini tidak terlihat jalan setapak sedikitpun, hutan hanya ditutupi daun-daun kering. Terus berjalan, secepatnya saya harus segera keluar dari hutan ini. Dimana ini sebenarnya? Kepala terasa sakit lagi, berhenti sejenak untuk menghilangkan denyutannya. Mendongak ke atas, terlihat satu burung hantu sedang berdiri memperhatikanku, tatapan tajam dari kedua matanya yang besar dan bundar terlihat menyeramkan, ngeri. Kembali kaki melangkah mencari jalan.
            Sepuluh menit.
            Dua puluh menit. Menurut perkiraanku.
            Masih belum nampak ujung dari hutan ini, sudah lebih dari 5 kali saya terperanjat kaget alasannya bertemu ular. Sekali-kali tercium wangi bunga-bunga—aku tidak tahu wangi bunga apa itu, namun yang pasti, meskipun wangi itu wangi, namun membawa imbas menyeramkan, ibarat sesosok hantu tengah mengawasi. 
            Mama, ayah tolong anakmu ini keluar dari sini. Aku gemetaran, menahan tangis.
            Sial, ditengah malam begini, ditengah hutan, hambar yang amat sangat, sendirian dengan rasa takut yang amat sangat, tiba-tiba hujan menderu tiba amat deras, membasahi dedaunan di pohon, membasahi bumi, membasahi seluruh pakaian dan tubuhku, tak sanggup lagi saya menahan rasa hambar dan takut itu. Hanya sanggup merapatkan kedua tangan, tergopoh-gopoh berjalan. Menangis. Seorang anak yang terbiasa hidup ditengah terangnya lampu di rumah yang nyaman, tiba-tiba tersesat di hutan ditengah malam sendirian, bagaimana saya tidak takut.
            Jujur saja, saya ialah anak laki-laki cengeng dan manja, keadaan hidup kami yang bergelamor menciptakan begini. Untuk tidur selalu minta dibacakan dongeng –itu waktu kecil– , untuk makan tinggal disebutkan, ingin mandi air hangat tinggal menyuruh bi Dira menyiapkan, takut akan kegelapan tinggal menghidupkan lampu yang menyala terang dan membiarkan TV di kamar hidup semalaman. Jika badan sedikit pegal, bi Dira pula yang memijat tubuhku. Jangankan bekerja, merapikan kamar tidur saja saya jarang sekali. Sebenarnya mama dan ayah ingin menghilangkan perilaku manja pada diriku, itulah mengapa mama terkadang menciptakan teka-teki dimana kalau saya tidak menjawab atau tidak sanggup menjawab, hukumannya harus merapikan dan membersihkan kamar sendiri. Mama tidak memaksa kami mengikuti teka-teki itu, namun kalau tidak ikut maka uang jajan kami akan dipotong. Aku rindu mama, rindu akan teka-tekinya.
            Semua kemewahan itu, kenyamanan rumah kami, bahkan seratus kali bolak-balik berbanding dengan kondisi saya sekarang. Kelaparan, kedinginan, ketakutan. Tak sanggup bermanja, sanggup hilang nyawaku kalau bermanja-manja disini.
            Tungu sebentar, bicara wacana teka-teki, dimana kalung pemberian mama? Aku merogoh kantong, panik. Dimana? Dimana kalung itu? Astaga, maafkan Sulung ma, kalungnya hilang. Sulung tidak sanggup mencarinya ma, sulung harus pergi dari sini. Sepertinya kalung itu tidak akan sanggup didapatkan lagi, sekali lagi maafkan sulung, ma.
            Aku kembali memaksa kaki melangkah, meskipun, lelah-letih-lesu-pegal. Tergopoh-gopoh saya tetap berjalan.
            “KRSSKK…” Terdengar bunyi berjalan, menginjak dedaunan. Hujan sudah berhenti, bulan purnama sedikit memunculkan diri lagi. Sebenarnya aneh, ditengah bulan purnama begini, mengapa hujan turun begitu derasnya (Atau hal itu sudah biasa? Hanya saya saja yang tidak tahu?)
            “KRRSKKK!!!” Lagi-lagi bunyi itu terdengar, kini tampaknya ia mendekat. Suara apa itu? Kuharap itu bukanlah bunyi dari orang-orang abnormal itu lagi.
            “KRSSKKK.!!..KRSKKK..!!”  Sekarang sudah dipastikan kalau sumber bunyi itu sempurna sekitar satu meter dibelakangku. Aku mencicit ketakutan, menengok ke belakang secara perlahan. AS-TA-GA, menelan ludah, jantung sudah berderu kencang melihat sosok si pembuat bunyi itu barusan. “Be-Ru-Ang” Aku berkata pelan, takut ia mengetahui keberadaanku, mundur sedikit-demi sedikit. Saat binatang itu tidak melihat, bergegas saya berlari secepat mungkin. Namun sial, binatang itu malah melihat, dan mungkin saja mengira saya mangsa, ia mengejar.
            Sebenarnya belum dipastikan itu binatang apa, hanya terlihat sileut tubuhnya saja yang bermandikan cahaya purnama. Terserah itu binatang apa, yang niscaya saya harus lari biar terhindar dari cengkramannya.
            Hewan itu terus mengejar, saya tegang sekali, kaki sudah benar-benar berat untuk diajak melangkah. Tapi apa daya, semua ini memaksa untuk kaki terus melangkah.
            Napas sudah tersenggal, kaki tidak berpengaruh lagi untuk melangkah, saya tersungkur, menciptakan langkah terhenti. Hewannya sudah tinggal beberapa langkah, mengaum buas, siap menerkam, terlihat gigi-gigi runcingnya berbaris rapi dikala ia membuka mulut.
            “TOLONGGG…!!” Hanya teriakan ini yang sanggup kulakukan, sambil terus bergeser mundur. “TOLONGGG..” Kembali berteriak. Tak bisa, saya tidak sanggup mengharapkan dukungan dari orang lain, berusaha dengan sekuat tenaga untuk berdiri. Kaki sudah pincang untuk lari, sekujur badan seakan diremas-remas saking lelahnya, udara rasa-rasanya tidak sanggup lagi masuk ke dalam tubuh, namun saya terus berusaha untuk lari. Tubuh sudah lelah tak sanggup dijelaskan, wajah sudah cemong tak tahu lagi bentuknya.
            Aku benar-benar tidak sanggup, hanya beberapa meter melangkah, badan kembali tersungkur. Hewan itu sudah benar-benar siap untuk  menerkam, mataku terpejam, tangan melindungi kepala, tak sanggup berbuat apa-apa lagi, kuku panjang itu sudah tinggal beberapa senti merobek dagingku. Aku pasrah, menahan napas. Beberapa menit, namun ia tidak mencakar.
            Teriakan binatang yang kini sudah benar dipastikan beruang itu tiba-tiba ibarat kesakitan. Aku membuka mata, melihat apa yang terjadi, ternyata satu anak panah dengan garis-garis merah sudah tertancap di paha beruang. Siapa yang telah memanahnya? Siapapun itu, ia niscaya akan memenangkan lomba memanah di dunia. Aku melihat sekeliling, tidak ada satupun orang disana, beberapa detik kemudian, beruang itu terkena anak panah lagi sempurna di ulu hatinya., menciptakan beruang itu tumbang tak sanggup lari lagi. Tinggal menunggu waktu, beruang tersebut akan benar-benar mati. 
            Aku bernapas lega, namun masih bingung, siapa yang telah memanah si beruang? Tak terlihat siapapun, bahkan bunyi langkah kakipun tidak terdengar.
            Tubuh benar-benar sudah kelelahan, perut sudah sakit menahan lapar, tampaknya saya tidak akan sanggup keluar dari hutan ini atau saya akan mati di hutan ini, kepala berdenyut sakit. Aku kembali tersungkur untuk kesekian kalinya, tiba-tiba kembali tak sadarkan diri.
BERSAMBUNG…
Nantikan Novel-Novel Motivasi hidup yang lainnya. Nantikan pula Artikel wacana motivasi, wangsit dan renungan lainnya 🙂